Minggu, 13 Agustus 2017

KACAMATA SANGIHE (Zosterops nehrkorni)

ENDEMIK PULAU SANGIHE. Saat berangkat ke Pulau Sangihe Mei 2014, walaupun peluangnya kecil saya sangat mengharap menjumpai burung ini, bahkan memotretnya. Tapi sayang, hingga meninggalkan Sangihe, saya tidak berhasil menjumpainya. Jenis sangat langka, sehingga IUCN menetapkan statusnya dalam kategori Sangat Terancam Punah (Critically Endangered). Sejak specimennya pertamakali dikoleksi, hampir semua survei selanjutnya gagal menjumpai burung ini. Saat ini diperkirakan populasinya tidak lebih dari 50 ekor dan bertahan hidup hanya pada hutan primer dan sekunder tua seluas 500 ha di Gunung Sahedaruman. Ironisnya areal tersebut tidak termasuk kawasan konservasi/lindung, sehingga sangat potensi dirambah.

Rabu, 22 Agustus 2012

PENGAMATAN BURUNG DI PULAU PELENG KEPULAUAN BANGGAI, SULAWESI TENGAH


Pulau Peleng bersama Pulau Banggai, Pulau Labobo, Pulau Bangkurung, Pulau Bowokan dan Kepulauan Sula (terdiri Pulau Taliabu, Pulau Mangole dan Pulau Sanana)  merupakan daerah  penghubung dua kawasan hewan penting, yaitu Kawasan Sulawesi dan Maluku; karena kedua kawasan tersebut memiliki jenis hewan yang berbeda, dan terletak sangat dekat disisi barat Garis Weber; yang merupakan garis batas penyeimbang antara hewan Kawasan Oriental dan Kawasan Australo-Papuan, maka tak heran jenis hewan yang ada di kawasan ini merupakan percampuran antara jenis hewan Kawasan Oriental dan Kawasan Australo-Papuan.
Karena terletak pada berbatasan antara Pulau Sulawesi dan Kepulauan Maluku, sehingga di Pulau Peleng dijumpai jenis burung asli Sulawesi yang bercampur dengan jenis burung  asli Kepulauan Maluku. Jenis-jenis burung asli Sulawesi yang dijumpai seperti Spizaetus lanceolatus, Accipiter griseiceps, Ducula luctuosa,  Ptilinopus superbus,  dan Turacoena manadensis.  Jenis-jenis  burung asli Kepulauan Maluku yang dijumpai di Pulau Peleng seperti Loriculus amabilis, Alisterus amboinensis, Otus magicus dan Aplonis mysolensis.