Tampilkan postingan dengan label Pengamatan Burung. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pengamatan Burung. Tampilkan semua postingan

Selasa, 25 April 2023

STATUS PERENJAK JAWA (PRINIA FAMILIARIS) DI SULAWESI

Oleh: Fachry Nur Mallo

Gambar 1.  Prinia familiaris

Pendahuluan

Prinia familiaris tersebar terbatas; endemik di Sumatra, Jawa dan Bali. Juga dilaporkan di Kalimantan dan Lombok. Cukup umum di Sumatra dan Bali, tetapi sangat jarang di Jawa (Atlas Burung Indonesia 2020). Laporan di Kalimantan dan Lombok mungkin introduksi. Di Sulawesi, penulis juga telah menjumpai di beberapa tempat di Lembah Palu, dipastikan introduksi dari luar Sulawesi.

Merupakan penghuni habitat terbuka, pemukiman, rawa dan semak hingga ketinggian 1.500 m. Mencari makan di semak, dahan rendah hingga pucuk pohon. Kadang sambil menegakkan ekor (Atlas Burung Indonesia 2020).

Minggu, 02 Agustus 2020

CATATAN JENIS BURUNG DAN PENGGUNAAN RELUNG AREAL PERSAWAHAN SEKITAR PEMUKIMAN RANCA EKEK, BANDUNG


Oleh: Fachry Nur Mallo
Pendahuluan
Persawahan di Ranca Ekek memiliki areal cukup luas, yang bersambung dengan rawa yang cukup luas. Rawa ini letaknya cukup jauh dari pemukiman sehingga tidak mencakup dalam pembahasan tulisan ini.  Penulis hanya membatasi membahas jenis-jenis burung yang melakukan aktifitas di areal persawahan dan areal rawa di sekitar permukiman, dan disekitarnya ramai dengan aktifitas manusia dan kendaraan.
Gambar 1. Glareola maldivarum, migran dari Australia saat musim dingin
Vegetasi rawa umumnya terbentuk di sekitar areal persawahan ini, dan dibeberapa tempat saling bercampur.  Jenis tumbuhan di areal ini didominasi vegetasi Typha sp, Ipomea aquatica, Otellia spp., Monochoria sp. dan Colocasia sp., selain padi (Oryza sativa) sebagai tanaman utama.  Tanaman yang lebih tinggi dijumpai Bambusa sp., Senna sp. dan Lannea coromandeliana.

Senin, 08 Juli 2019

STATUS KEBERADAAN TRULEK JAWA (VANELLUS MACROPTERUS); KOMPARASI DENGAN SURVIVAL LIMA SPESIES BURUNG SULAWESI

Gambar 1: Sketsa sepasang Vanellus macropterus @ Fachry Nur Mallo
Vanellus macropterus merupakan endemik Jawa, belum tercatat sejak 1940 hingga sekarang. Sejak tahun 2001 hingga 2012 telah dilakukan survei mencari keberadaannya, tetapi tidak dijumpai. Banyak ornitolog berpendapat populasi burung ini masih ada, terbatas pada tempat terpencil belum diketahui, tetapi sebagian berpendapat telah punah. IUCN menetapkan statusnya “kritis” (critically endangered) dalam kategori burung terancam punah. 
Saat ini data Vanellus macropterus sangat sedikit tersedia, sehingga burung ini cenderung menjadi misteri saat ini. Oleh karena itu apapun survei, penelitian dan telahaan dilakukan terhadap burung ini akan sangat bermanfaat.
Saya juga mencoba melakukan telahaan status burung ini yang sifatnya hipotesis, dengan membandingkan survival lima spesies burung Sulawesi (Cacatua sulphurea, Ciconia episcopus, Tachybaptus ruficollis, Corvus unicolor dan Eutrichomyias rowleyi), saya duga memiliki kesamaan dengan burung ini dalam survival. Saya juga menulis survei yang dilakukan mencari burung ini, kondisi habitat dan sekilas tingkah lakunya, ornitolog dulu pernah menjumpai burung ini, penyebab menurun populasi/punah, dugaan keberadaannya saat ini dan rekomendasikan dilakukan saat ini. Saya sangat mengharap semoga tulisan ini akan bermanfaat bagi siapa saja yang mempunyai perhatian terhadap burung ini, atau secara umum burung-burung di Jawa.

Minggu, 23 Desember 2018

ADAPTASI KAKATUA JAMBUL-KUNING (Cacatua sulphurea) DI LEMBAH PALU DAN PULAU PASOSO


Oleh  Fachry Nur Mallo
Gambar 1.  Sepasang Kakatua kecil jambul kuning di Pulau Pasoso
Pendahuluan
Kakatua Jambul Kuning tersebar terbatas di Sulawesi, Nusa Tenggara dan pulau-pulau kecil di Laut Flores. Diintroduksi ke tempat lain (del Hoyo,  et al.,  2014.). Di seluruh tempat penyebarannya semakin jarang dijumpai, sehingga saat ini sangat terancam puncah.  IUCN menetapkan status keterancamannya kategori kritis (critically endangered). Hal ini disebabkan semakin gencarnya perburuan yang dilakukan dan pengrusakkan habitatnya (Cahyadin, Y. dkk., 1994 dan Mallo, F.N., dkk., 1996).  Pada banyak tempat di Sulawesi telah punah secara lokal.
Merupakan penghuni hutan primer dan sekunder tua, di luar musim berbiak pengembara (nomadic) mengunjungi tempat-tempat terdapat tumbuhan berbuah, termasuk tanaman di lahan budidaya dan hutan mangrove berpasangan dan berkelompok kecil maupun besar. Sebagaimana anggota ordo Psittaciformes (nuri, serindit dan kakatua) saat berbiak membuat sarang dengan melobangi bagian batang pohon lunak lalu meletakkan dua hingga tiga telur di dalamnya. 

Sabtu, 24 November 2018

BURUNG-BURUNG DI PULAU PASOSO


Oleh:  Fachry Nur Mallo* dan Moh. Ihsan Nur Mallo**
Gambar 1.  Corvus enca umum dijumpai di pesisir pantai
DESKRIPSI PULAU PASOSO
Status dan letak
Pulau Pasoso beserta perairan lautnya merupakan kawasan Suaka Margasatwa Laut berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Sulawesi Tengah dengan luas kurang lebih 5.000 ha, yang dikhususkan untuk melindungi segala aktifitas penyu di tempat ini. Luas daratan Pulau Pasoso 49 ha. Secara administrasi Pulau Pasoso termasuk wilayah Desa Pomolulu, Kec. Balaesang, Kab. Donggala. Prov. Sulawesi Tengah.

Minggu, 06 Mei 2018

CATATAN BARU GAJAHAN BESAR (NUMENIUS ARQUATA ) DI SULAWESI

Foto 1.  Numenius arquata dan Limosa limosa di Muara Sungai Palu

Awal 2014 Dadang Dwi Putra menyerahkan beberapa fotonya hasil hunting  pada 15 Oktober 2013 di pesisir Pantai Talise dan Muara Sungai Palu. Dia juga menanyakan  jenis gajahan dalam foto tersebut, terbang bersama sejenis burung pantai di Muara Sungai. Saya lama mengamati foto tersebut tetapi saya tidak mengetahui jenis kedua  burung tersebut.  
Setelah pulang ke rumah dan beberapa hari kemudian, saya mencoba mengidentifikasi lagi, tetapi tetap belum berhasil mengetahui jenisnya. Saya hanya menduga mungkin Numenius madagascariensis muda, tetapi hal itu belum meyakinkan saya.

Sabtu, 10 Maret 2018

PENGAMATAN JALAK MAWAR (Pastor roseus) DI BANDUNG JAWA BARAT

(Observation Rosy Starling  (Pastor roseus) in Bandung, West Java)
Foto 1.  Jalak Mawar teramati di Taman Maluku, Bandung
Jalak Mawar (Pastor roseus) hidup alami di stepa selatan Ukraina, hingga menyebar  ke tengah dan timur Kazakhstan, barat Altai dan barat Mongolia, selatan hingga timur Turki, utara Iran, Afganistan dan barat laut Cina, kadang-kadang tenggara Eropa Barat; Republik Ceko, Hungaria, Italia, mungkin berbiak di  Rumania, Bulgaria, Balkan,  juga kadang lebih jauh ke timur Rusia. Saat musim dingin sebagian besar populasinya bermigrasi ke India dan Sri Lanka (del Hoyo et al., 2016).

Senin, 22 Januari 2018

PENGAMATAN TIKUSAN KERDIL (Zapornia pusilla) DAN MANDAR BONTOD (Gallicrex cinerea) DI PERSAWAHAN RANCA EKEK, JAWA BARAT

(Observation Baillon’s Crake (Zapornia pusilla) and Watercock (Gallicrex cinerea) in the rice field Ranca Ekek, Bandung, West Java)
Foto 1. Tikusan kerdil melakukan aktifitas di persawahan Ranca Ekek (@Fachry NM.)
Selama melakukan pengamatan burung di Jawa, salah satu obsesi saya ingin menjumpai Mandar Bontod, mengingat burung ini sangat sulit dijumpai saat ini. Padahal beberapa tahun silam masih sering dijumpai, walaupun tidak umum.
Petualangan pencarian ini sudah saya lakukan di beberapa tempat di pesisir pantai utara Jawa. Saya memilih kawasan tersebut karena saya mendapat informasi saat musim migran burung dari utara khatulistiwa, Mandar Bontod banyak dijumpai di kawasan tersebut. Tetapi kenyataannya saya tidak pernah menjumpainya selama mengunjungi beberapa tempat di kawasan tersebut.  Pencarian burung ini juga saya lakukan dibeberapa rawa dan lahan persawahan lain di Jawa Barat, juga tidak menjumpainya.

Kamis, 04 Januari 2018

PENGAMATAN BERKIK KEMBANG BESAR (Rostratula benghalensis) DI PERSAWAHAN DESA PINEDAPA POSO SULAWESI TENGAH

(OBSERVATION GREATER PAINTED SNIPE (Rostratula benghalensis) IN THE RICE FIELD OF PINEDAPA VILLAGE, POSO, CENTRAL SULAWESI)
Foto : kondisi persawahan Desa Pinedapa pada masa dibajak. Kondisi seperti ini jika diselingi    
           vegetasi kadang dijumpai Berkik-Kembang Besar
Pagi, 29 Juli 2010 pagi saat saya sibuk memotret sepasang Anas superciliosa dan satu individu Galinulla chloropus di lahan persawahan yang masih ditumbuhi herba Cyperus rotundus Desa Pinedapa (dekat Kasiguncu, Poso), tiba-tiba dikagetkan sepasang burung rawa terbang pendek, menghindari saya. Awalnya saya mengira Galliralus philippensis, yang umum dijumpai di persawahan ini. Tetapi setelah meneropong, saya kaget karena ternyata burung tersebut sepasang Berkik-kembang Besar Rostratula benghalensis, yang selama ini sudah lama saya cari, setelah diketahui jenis ini juga terdapat di Sulawesi.

Minggu, 10 Desember 2017

PENGAMATAN JALAK PHILIPINA (Agropsar philippensis) DI LEMBAH PALU DAN BANDUNG

Foto Jantan Agropsar philippensis teramati di Bandung
Pada 29 Desember 2006 pagi saya, Dadang Dwi Putra dan Rahman  berangkat menuju selatan Kota Palu, melakukan pengamatan burung di hutan mangrove Lompio, Desa Maranata. Tujuan kami mencari Cacatua sulphurea yang pernah dijumpai Moh. Ihsan Nur Mallo (KPB. Spilornis-Palu) di tempat ini. Sekaligus melihat langsung hutan mangrove unik ini. Unik, karena hutan mangrove ini terdapat  pada daerah yang  jaraknya kurang lebih 20 km dari pesisir pantai, sementara hutan mangrove diketahui hanya terdapat di pesisir pantai.
Kami tiba di hutan ini matahari sudah terasa menyengat, karena waktu menunjukan jam 10.00. Setiba di hutan ini kami masih menjumpai cukup banyak jenis burung, terutama penghuni hutan monsoon, seperti Streptopelia tranquebarica, Streptopelia chinensis, Centropus bengalensis, satu individu Eudynamis orientalis muda,  Hypotaenidia philippensis, kawanan kecil Aplonis panayensis, kawanan Lonchura molluca, Lonchura punctulata, Lonchura atricapilla dan Lonchura Pallida. Dari jarak jauh kami mendengar kawanan burung beterbangan sangat banyak, lalu hinggap di pohon mangrove di dalam vegetasi hutan, sambil mengeluarkan suara ribut, yang mengganggu pendengaran kami. Kami tidak menghiraukan kawanan burung ini, karena kami mengira mungkin hanya kawanan Scissirostrum dubium dan Aplonis panayensis. Kami sibuk mengamati burung lain.

Jumat, 10 November 2017

MENJUMPAI TYTO INEXSPECTATA DI TELUK TOMORI, CAGAR ALAM MOROWALI

Pada hari Sabtu dan Minggu, saya sering mengajak staf saya; Devi, Bush, Iman dan Ilham bertualang di Teluk Tomori dan hutan pesisir pantai Cagar Alam Morowali, refresing setelah lima hari sibuk dengan rutinitas kesibukan kantor. Dalam petualangan, mereka menyalurkan hobi memancing ikan, sedangkan saya manfaatkan mengamati burung pantai, burung hutan di pesisir pantai dan pulau-pulau kecil sambil ikut memancing ikan.