Tampilkan postingan dengan label Biogeografi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Biogeografi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 11 Oktober 2022

BIOGEOGRAFI BABI SULAWESI (SUIDAE): KELOMPOK BABI SULAWESI TERTUA DI DUNIA DAN KEUNIKAN LAIN

Oleh: Fachry Nur Mallo
Gambar 1.  Foto Babyrousa sp.

Pengantar

Babyrousa merupakan salah satu hewan mamalia saya paling saya kagumi di Sulawesi, dan juga banyak ahli fauna mengagumi hewan ini. Kekaguman ini karena keunikannya yang sangat berbeda dengan kelompok babi lain. Terutama taringnya yang khas, sehingga membentuk sub famili sendiri.

Saya sering membaca di beberapa artikel dan mendengarkan cerita teman-teman berkecimpung di penelitian hewan tentang keunikan hewan ini, dan diduga merupakan hewan purba yang tersisa. Tetapi seluruh informasi tersebut hanya sekedar penjelasan tanpa menjelaskan rujukan literatur.

Jumat, 29 April 2022

JENIS, BIOGEOGRAFI DAN PENYEBAB KEPUNAHAN GAJAH SULAWESI

Oleh  Fachry Nur Mallo

Gambar 1. Ilustrasi Palaeoloxodon namadicus, jenis gajah terakhir menghuni Sulawesi (Sumber: @Life Restoration di Wikipedia)

Pengantar

Jika kita berbicara gajah sebagai hewan Sulawesi, maka kita akan merasa heran dan tidak percaya, karena selama ini gajah tidak dikenal sebagai hewan pernah menghuni Sulawesi. Kita hanya mengenal Sumatera dan di Kalimatan pulau yang dihuni gajah di Indonesia.

Sesungguhnya Sulawesi pernah di huni jenis-jenis gajah purba, yang saat ini tidak ditemukan lagi di dunia. Kepunahan gajah terakhir di Sulawesi relatif belum lama, di era manusia sudah hadir di daratan Sulawesi.

Awalnya penulis mengenal gajah penghuni Sulawesi tahun 1987 setelah membaca buku Geologi Sulawesi karangan Whitten, dkk.  Saat itu tidak ada perhatian penulis terhadap hewan ini, sehingga menganggap bukan hewan penting di Sulawesi, dan kebetulan menghuni daratan Sulawesi yang terisolir.

Sabtu, 24 Oktober 2020

TEMUAN BARU FILOGENI SERIWANG SANGIHE (EUTRICHOMYIAS ROWLEYI) YANG MENCENGANGKAN

 Oleh: Fachry Nur Mallo

Kekagumanku pada Seriwang Sangihe

Pada malam 19 Mei 2014, saya bersama Dadang Dwi Putra mendaki tanjakan tepi kaldera purba Gunung Sahendaruman, di selatan Pulau Sangihe.  Saya berkali-kali istirahat karena menapaki tanjakan begitu terjal.  Untunglah kami dibantu Pak Niu (penemu kembali Seriwang Sangihe) dan beberapa guide lokal yang membantu kami mengangkut barang yang cukup banyak.  Tanjakan-tanjakan terjal ini juga kami rasakan saat mengunjungi habitat Seriwang Sangihe dari pondok Pak Eping dengan mendaki beberapa bukit terjal pergi-pulang selama tiga hari.  Saya bersusah payah menjalani perjalanan ini, hanya satu tujuan ingin bertemu dan memotret Seriwang Sangihe.

Gambar 1.  Foto induk Seriwang Sangihe

Minggu, 24 Maret 2019

CACATAN TINGKAH LAKU, EKOLOGI DAN BIOGEOGRAFI DELIMUKAN SULAWESI (Gallicolumba tristigmata)


NOTES  BEHAVIOR, ECOLOGY AND BIOGEOGRAPHY
SULAWESI GROUND-DOVE (Gallicolumba tristigmata)
Oleh: Fachry Nur Mallo
PENDAHULUAN
Gallicolumba tristigmata merupakan merpati-tanah cantik penghuni lantai hutan primer dan sekunder tua Sulawesi.  Perpaduan punggung, sayap, tunggir dan ekor coklat tua,  muka, dagu dan depan leher putih, dahi dan perut kuning, mahkota dan belakang tengkuk biru, samping leher ungu tua membuat pola warna yang indah pada burung ini. Seperti melihat pola lukisan yang sangat indah.
Burung ini merupakan endemik Sulawesi, dan hanya dijumpai terbatas di daratan utama, pada kawasan hutan primer dan hutan sekunder tua di dataran rendah dan dataran tinggi.
Foto 1:  Keindahan bulu Gallicolumba tristigmata yang mengagumkan
Sangat disayangkan kehidupannya sangat jarang diketahui, karena sangat liar sehingga sulit teramati. Maka tidak heran data burung ini sangat kurang tersedia, terutama perilaku dan ekologinya, khususnya perkembangbiakannya.
Beberapa tahun lalu saya mecoba mengumpulkan data burung ini, dan berhasil terkumpul data tingkah laku, ekologi, dan biogeografi, yang saya rangkum dalam tulisan ini. Data ini walaupaun sedikit tetapi saya yakin akan sangat bermanfaat.
Sejak 1990 saya melakukan pengamataan di hutan-hutan Sulawesi. Saya harus memendam keinginan begitu lama untuk bertemu burung ini, sebelum akhirnya berhasil berjumpainya pada 2010 di hutan sekunder tua Desa Ganda-Ganda, Morowali Utara.
Data tingkah laku dan habitat burung ini selain dari pengamatan saya lakukan, juga dari hasil wawacara para masyarakat yang melakukan aktifitas di hutan, juga data dari pengamat lain.

Selasa, 24 April 2018

BURUNG-BURUNG PEMUKIMAN KOTA BANDUNG: KAJIAN BIOGEOGRAFI PULAU


Oleh Fachry Nur Mallo
Gambar 1: Psilopogon haemacephalus
Jika kita berkunjung ke Kota Bandung dan sekitarnya kita masih dapat menikmati aktivitas berbagai jenis burung di taman-taman kota, atau areal lain berpohon cukup luas. Misalnya di halaman kantor atau rumah cukup luas, vegetasi pemukiman pinggiran kota atau areal berair terpencil.
Selama tinggal di Kota Bandung dengan jangka waktu cukup lama, saya telah melakukan kunjungan rutin ke beberapa tempat di kota ini dan sekitarnya, dan telah menjumpai 49 jenis burung.  Sebenarnya catatan ini belum menggambarkan keseluruhan jumlah jenis burung di Kota Bandung dan sekitarnya, karena masih banyak jenis yang pernah tercatat tidak saya jumpai, mungkin karena sudah punah, atau merupakan jenis yang jarang.

Senin, 16 April 2018

KOMPETISI DAN PEMBAGIAN SUMBERDAYA BURUNG BURUNG DI SULAWESI


Oleh : Fachry Nur Mallo
Gambar 1:  Foto Myza celebensis, jenis Meliphagidae di dataran tinggi

Pendahuluan

Pulau Sulawesi sangat menarik perhatian para ornitolog sejak beberapa abad yang lalu hingga sekarang, karena memiliki kekayaan endemisitas burung yang tinggi. Dari   462  jenis  burung  yang  tercatat  di  pulau ini (Mallo, dkk. 2017), 134 jenis diantaranya endemik kawasan ini (del Hoyo, et al., 2014, 2016),  dan  menjadi penyumbang terpenting kekayaan burung endemik di Indonesia. Yang lebih menarik, kawasan ini memiliki banyak jenis yang khas. Hal ini tercermin dengan terdapatnya satu famili  endemik  kawasan  ini;  Hylocitreidae,  beranggotakan  dua jenis, dan 17 marga endemik; Macrocephalon, Cryptophaps, Rhampococcyx, Aramidopsis, Meropogon, Cittura, Myza,  Coracornis,  Celebesica,  Eutrichomyias, Malia, Streptocitta, Enodes, Scissirostrum, Geomalia, Cataponera dan Heinrichia.

Kamis, 15 Februari 2018

BIOGEOGRAFI BURUNG-BURUNG DI KEPULAUAN BANGGAI-SULA, SULAWESI

(Biogeography of birds in Banggai-Sula Islands, Sulawesi)
Oleh: Fachry Nur Mallo
Gambar 1.  Corvus unicolor, spesies endemik Kepulauan Banggai-Sula
LATAR BELAKANG GEOLOGI
Satyana (2007) mengidentifikasi lima peristiwa benturan di Indonesia yang membentuk atau mempengaruhi sejarah tektonik Indonesia sepanjang Kenozoikum. Salah satunya adalah terjadi dari 11-5 Ma (Miosen akhir-Pliosen paling awal) ketika mikro-kontinen Buton-Tukang Besi dan Banggai-Sula membentur ofiolit Sulawesi Timur. Terjadinya benturan mikro-kontinen Buton-Tukang Besi dan Banggai-Sula ofiolit Sulawesi Timur, ketika mikro-kontinen ini terlepas dari Kepala Burung Papua dan bergerak ke barat oleh Sesar Sorong. Benturan ini telah membentuk jalur lipatan dan sesar Buton di selatan Sulawesi Timur dan Jalur Batui di daerah benturan Banggai dan Sulawesi Timur. Kedua benturan ini telah diikuti tectonic escapes pasca benturan dalam bentuk-bentuk  rotasi lengan-lengan Sulawesi, pembentukan sesar-sesar mendatar besar Palu-Koro, Kolaka, Lawanopo, Hamilton, Matano, dan Balantak, dan pembukaan Teluk Bone. Gerak sesar-sesar mendatar ini di beberapa tempat telah membuka cekungan-cekungan koyakan (pull-apart basin) akibat mekanisme trans-tensional seperti danau-danau Poso, Matano, Towuti juga Depresi Palu.