Tampilkan postingan dengan label ekologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ekologi. Tampilkan semua postingan

Minggu, 15 Desember 2024

BURUNG DI CEKUNGAN BANDUNG DAN SEKITARNYA

 

Buku ini telah selesai saya tulis, dan siap cetak tahun 2022, tetapi hingga saat ini belum diterbitkan, karena keterbatasan Dana. Untuk itu saya memutuskan membuat pdf-nya saja, lalu disebarkan online. Karena saya menyadari isi buku ini mungkin dibutuhkan bagi yang melakukan penelitian, survei maupun aktifitas perburungan lain di Cekungan Bandung dan sekitarnya. Rencananya, jika kelak suatu saat saya memiliki dana, akan mencetak buku ini. Buku ini saya lay out sangat sederhana, mengingat keterbatasan pengetahuan saya me-lay out.

Buku ini menjelaskan tentang burung-burung di lanskap didominasi manusia di cekungan Bandung dan sekitarnya. Tercatat 213 jenis burung yang saya data. Mencakup burung penghuni perkotaan yang ramai aktifitas manusia, hingga lahan budidaya di tepi hutan terpencil.  

Awalnya buku ini saya tulis setelah saya menulis di blog pribadi saya artikel “Burung-Burung Pemukiman Kota Bandung; Kajian Biogeografi Pulau”, disadari bahwa saya masih kurang memahami status beberapa jenis burung di kawasan ini. Salah satu contoh, saya mengalami kesalahan mengidentifikasi Orthotomus ruficeps dan O. sepium. Kesalahan terjadi karena awal mengidentifikasi saya merujuk pada pengamatan-pengamatan terdahulu, mencatat Orthotomus ruficeps umum di Kota Bandung dan sekitarnya, tetapi ternyata sangat jarang. Teramati umum karena kesalahan membedakannya dengan O. sepium. Hal itu mendorong saya bertekad mempelajari perburungan di kawasan ini lebih serius. Setelah itu barulah saya  bisa memahami status burung-burung di kawasan ini.

Jumat, 13 Desember 2024

GAGAK BANGGAI DAN BURUNG BURUNG KEPULAUAN BANGGAI -SULA

 

Buku ini saya cetak pada 2015, dan telah saya distribusikan kepada yang membutuhkan. Beberapa tahun belakangan beberapa orang menghubungi saya menanyakan ketersediaan stok buku ini, karena kebutuhan penelitian, survei serta sebagai sumber bacaan mereka. Karena stoknya sudah habis, maka saya mengirimkan pdf-nya saja, dan mereka sangat terbantu. Melihat kondisi tersebut, saya berinsiatif menyebarkan pdf buku ini secara terbuka, agar bagi yang membutuhkan dapat mengaksesnya langsung.

Buku ini di-lay out dan dicetak sederhana, mengingat keterbatasan dana saya miliki, dan keterbatasan pengetahuan saya me-lay out. Saat ini banyak catatan tambahan yang di kumpulkan setelah penerbitan tahun 2015, terutama ketambahan beberapa jenis baru tercatat di Kawasan tersebut, berkat pengamatan dilakukan Alfian Maleso, serta penyebaran jenis daratan Sulawesi ke Pulau Peleng, terutama penemuan Megapodius cumingii. Dalam buku tersebut juga ada beberapa kesalahan kecil. Insya Allah, kekurangan buku tersebut akan diperbaiki pada penerbitan berikutnya.

BURUNG BURUNG DI CAGAR ALAM MOROWALI

 

Buku ini saya cetak pada 2016, dan telah saya distribusikan kepada yang membutuhkan. Beberapa tahun belakangan beberapa orang menghubungi saya menanyakan ketersediaan stok buku ini, karena kebutuhan penelitian, survei serta sebagai sumber bacaan mereka. Karena stoknya sudah habis, maka saya mengirimkan pdf-nya saja, dan mereka sangat terbantu. Melihat kondisi tersebut, saya berinsiatif menyebarkan pdf buku ini secara terbuka, agar bagi yang membutuhkan dapat mengaksesnya langsung.

Buku ini di-lay out dan dicetak sederhana, mengingat keterbatasan dana saya miliki, dan keterbatasan pengetahuan saya me-lay out. Saat ini banyak catatan tambahan yang di kumpulkan setelah penerbitan tahun 2016, terutama ketambahan dua jenis baru tercatat di Kawasan ini, serta beberapa catatan penting ekologi dan biologinya.

Buku ini menjelaskan burung di Cagar Alam Morowali, sebuah kawasan memiliki kekayaan burung tertinggi di Wallacea. Dan dapat mewakili fenomena keunikan dan tingginya endemisitas jenis burung di Sulawesi. Di kawasan ini ditemukan 285 jenis burung, 67 % dari seluruh jenis burung Sulawesi, diantaranya 73 jenis endemik Sulawesi (dari 106 jenis endemik Sulawesi).

Senin, 26 Februari 2024

CATATAN PENGAMATAN MANYAR JAMBUL (PLOCEUS MANYAR) DI DESA SUNJU, KABUPATEN SIGI, LEMBAH PALU

Oleh Fachry Nur Mallo dan Dadang Dwi Putra

Gambar 1. Foto Ploceus manyar betina di lokasi pengamatan

Pendahuluan

Manyar Jambul secara global tersebar di Pakistan, India, Nepal, Sri Lanka, Myanmar, selatan Cina, Laos, Thailand, Vietnam, Jawa, Bawean dan Bali. Diintroduksi ke berbagai tempat, termasuk ke Sulawesi.  Di Sulawesi telah ditemukan di Semenanjung Barat Daya dan Lembah Palu: pada 12 Agustus 2012 satu kawanan menunjukkan bulu berbiak di tambak dekat Makassar, 22 Oktober 2012 satu kawanan di Bandar Udara Hasanddin (van Balen et al.  2014), September 2013 satu individu dekat Bantimurung, 27 April 2014 teramati di tambak Desa Majannang, Maros, Agustus 2014 satu kawanan di Bandar Udara Hasanuddin, 13 Juni 2016 tiga sarang di sepanjang Bantimurung, seluruhnya di barat daya Sulawesi (Iqbal et al. 2016). Pada 14 Juli 2020 tim KPB Spilornis menemukan 12 sarang aktif di vegetasi Saccharum sp. di tepi Sungai Palu di Desa Pulu, Dolo. Hampir seluruh sarang berisi anak dan fledgling. Di Lembah Palu spesies ini juga ditemukan kedua penulis di Jalan Karanjalemba, Desa Mpanau, Kabupaten Sigi, Desa Sunju Kecamatan Maravola, Kabupaten Sigi dan di Tambak Garam Kelurahan Talise.

Minggu, 24 Desember 2023

CATATAN JENIS TUMBUHAN DIMAKAN BONDOL (LONCHURA SPP.) DI SULAWESI TENGAH

 Oleh Fachry Nur Mallo

Gambar 1. Induk Lonchura pallida makan bulir tumbuhan Chloris virgata di Palu

Pendahuluan

Burung-burung Bondol (Lonchura spp.) termasuk dalam famili Estrildidae. Kelompok burung ini adalah granivore, pemakan biji.  Bentuk paruhnya mempunyai ciri spesifik umumnya tebal, kokoh, dan pendek.  Di Indonesia Lonchura spp. umumnya memakan biji-biji rumput pada area terbuka. Jenis-jenis rumput tersebut umumnya tumbuh liar di area terbuka, termasuk di sekitar lahan budidaya, persawahan dan pemukiman.

Selasa, 21 November 2023

PENGAMATAN PERENJAK JAWA (PRINIA FAMILIARIS) DAN KERAK KERBAU (ACRIDOTHERES JAVANICUS) DI POSO DAN KEBUN KOPI; CATATAN BARU DI SULAWESI

Oleh: Fachry Nur Mallo

Gambar 1.  Prinia familiaris di vegetasi semak pemukiman Kelurahan Kayamanya, Poso.

Pendahuluan

Prinia familiaris tersebar terbatas di Sumatra, Jawa dan Bali. Juga dilaporkan di Kalimantan dan Lombok. Cukup umum di Sumatra dan Bali, tetapi sangat jarang di Jawa (Atlas Burung Indonesia 2020). Laporan di Kalimantan dan Lombok mungkin introduksi. Di Sulawesi, pada 25 Juni 2013 penulis menjumpai sepasang di hutan mangrove Pantai Talise (Mallo 2023), selanjutnya ditemukan dibanyak tempat lain di Lembah Palu, mungkin telah menyebar di seluruh Lembah Palu. Dipastikan introduksi dari luar Sulawesi.

Kamis, 16 November 2023

CATATAN BERSARANG DARA-LAUT KECIL (STERNULA ALBIFRONS) DI TAMBAK IKAN DESA BAINAA, TINOMBO, SULAWESI TENGAH

Oleh: Fachry Nur Mallo

Gambar 1. Foto dua induk Sternula albifrons dekat sarang

Pendahuluan

Sternula albifrons diketahui berbiak di Ghana, Gabon, Niger, Mauritania, Senegal, Teluk Persia, utara India, Sri Lanka, Eropa, Russia, Cina, Jepang, Asia Tenggara, Philippina, Indonesia, Australia, Tasmania, Solomon, Mikronesia, barat daya Pasifik, Hawaii. Musim dingin berkunjung ke selatan khatulistiwa (del Hoyo & Collar 2014), termasuk ke Sulawesi.  Pada Agustus 1985 Duke menemukan populasi kecil residen (+ 70 pasang) bercampur populasi migran dari Palaearctic dan/atau Australia di muara Sungai Morowali. Penduduk desa setempat juga memanen beberapa telur (Andrew & Holmes 1990). Temuan Duke satu-satunya catatan berbiak di Sulawesi, sebelum penulis menjumpai di Tambak Ikan Desa Bainaa. Tetapi foto sarang dan telur burung ini tidak tersedia saat itu, sehingga mungkin foto penulis pertama di Sulawesi. 

Selasa, 31 Oktober 2023

CATATAN BERSARANG CEREK JAWA (CHARADRIUS JAVANICUS) DI TAMBAK GARAM TALISE, PALU: CATATAN BARU DI SULAWESI

Oleh: Fachry Nur Mallo

Gambar 1. Charadrius javanicus sedang mengerami telur, di Tambak Garam Talise, Palu

Pendahuluan

Awalnya Charadrius javanicus diketahui endemik Jawa dan Bali, tetapi saat ini ditemukan tersebar di tempat lain; di Sumatera, Bangka, Belitung, Sulawesi, Nusa Tenggara, Singapura, dan Timor Leste. Umum di Jawa, Bali, jarang di Sumatera (Taufiqurrahman dkk. 2022), dan juga dijumpai di Maluku Utara (Putra 2023). Di Sulawesi hanya dijumpai di daratan Sulawesi; di tambak ikan dekat Makassar pada September 2007 dan September – Oktober 2009 (Mallo 2023), tambak garam Talise, Palu, tambak ikan Desa Bega/Mapane dan Desa Masani, Poso, dan tambak ikan Desa Bainaa, Tinombo (Mallo 2023A).

Minggu, 11 Juni 2023

CATATAN BERBIAK MANYAR JAMBUL (Ploceus manyar) DI DESA MPANAU, KABUPATEN SIGI, LEMBAH PALU

Oleh: Fachry Nur Mallo dan Dadang Dwi Putra
Gambar 1. Foto Ploceus manyar betina di tempat pengamatan

Pengantar

Ploceus manyar resmi telah tercatat terdapat di Sulawesi, karena telah ditemukan berbiak di banyak tempat. Di daratan Sulawesi spesies ini berbiak di Semenanjung baratdaya (Makassar dan sekitarnya) dan Lembah Palu.

Tetapi walaupun demikian hasil penelitian mengenai berbiak spesies ini belum pernah dilakukan, dan bahkan sekedar catatan pengamatan belum tersedia. Sehingga data berbiak spesies ini di Sulawesi belum ada, kecuali hanya data catatan pengamatan lokasi dan waktu berbiak, tetapi data kondisi tempat berbiak, sarang dan pohon sarang, dan perilaku berbiak belum tersedia.

Mengingat kondisi tersebut, maka penulis menulis catatan pengamatan berbiak spesies ini di Desa Mpanau, Kabupaten Sigi, agar dapat mengisi kekosongan data berbiak spesies ini di Sulawesi.

Selasa, 25 April 2023

STATUS PERENJAK JAWA (PRINIA FAMILIARIS) DI SULAWESI

Oleh: Fachry Nur Mallo

Gambar 1.  Prinia familiaris

Pendahuluan

Prinia familiaris tersebar terbatas; endemik di Sumatra, Jawa dan Bali. Juga dilaporkan di Kalimantan dan Lombok. Cukup umum di Sumatra dan Bali, tetapi sangat jarang di Jawa (Atlas Burung Indonesia 2020). Laporan di Kalimantan dan Lombok mungkin introduksi. Di Sulawesi, penulis juga telah menjumpai di beberapa tempat di Lembah Palu, dipastikan introduksi dari luar Sulawesi.

Merupakan penghuni habitat terbuka, pemukiman, rawa dan semak hingga ketinggian 1.500 m. Mencari makan di semak, dahan rendah hingga pucuk pohon. Kadang sambil menegakkan ekor (Atlas Burung Indonesia 2020).

Sabtu, 04 Februari 2023

INTRODUKSI SERAK JAWA (TYTO ALBA) DI DARATAN SULAWESI DAN POTENSI KOMPETISI DENGAN TYTO ASLI SETEMPAT

Oleh: Fachry Nur Mallo

Gambar 1. Tyto alba introduksi di daratan Sulawesi

Pendahuluan

Tyto alba tersebar luas diseluruh dunia; Amerika Serikat hingga Amerika Selatan, Afrika, Madagaskar, Eropa, Asia Selatan dan Tenggara, Sumatera, utara Kalimantan, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, pulau-pulau di Laut Flores, Papua, Australia, Melanesia, Polynesia (del Hoyo & Collar 2014).

Sabtu, 28 Januari 2023

SISTEM KONSERVASI MACROCEPHALON MALEO: KAJIAN KONSERVASI DILAKUKAN BAPAK Hi. SUN DI DESA WOSU, KABUPATEN MOROWALI

Oleh: Fachry Nur Mallo1, Mahdar2 dan Moh. Ihsan Nur Mallo3

Gambar 1.  Macrocephalon maleo sedang mengali sarang di tempat bertelur dibangun Bapak Hi. Sun (Sumber Foto: Mahdar)

Kamis, 29 Desember 2022

EVOLUSI DAN FILOGENI MACROCEPHALON MALEO DAN KERABATNYA (MEGAPODIIDAE)

Oleh: Fachry Nur Mallo
Gambar 1. Foto Macrocephalon maleo sedang mengali lubang sarang
Pengantar 
    Pada pertengahan 2021 saya membaca tulisan Michaux (2010) menjelaskan bahwa Macrocephalon maleo adalah basal untuk clade di megapoda Australia-New Guinea, dan merupakan evolusi paling awal dari semua megapoda yang ada. Membacanya penulis sangat senang dan semakin mengagumi burung ini. Sejak saat itu penulis berasumsi bahwa burung ini merupakan leluhur semua jenis megapoda. Dengan demikian pusat tempat evolusi megapoda berada di Sulawesi, hal ini wajar karena leluhur Megapoda pasti dari Asia (berasal dari Galliformes), jika menyebar ke Wallacea dan Australasia-Papua pasti harus melalui Sulawesi.

Selasa, 11 Oktober 2022

BIOGEOGRAFI BABI SULAWESI (SUIDAE): KELOMPOK BABI SULAWESI TERTUA DI DUNIA DAN KEUNIKAN LAIN

Oleh: Fachry Nur Mallo
Gambar 1.  Foto Babyrousa sp.

Pengantar

Babyrousa merupakan salah satu hewan mamalia saya paling saya kagumi di Sulawesi, dan juga banyak ahli fauna mengagumi hewan ini. Kekaguman ini karena keunikannya yang sangat berbeda dengan kelompok babi lain. Terutama taringnya yang khas, sehingga membentuk sub famili sendiri.

Saya sering membaca di beberapa artikel dan mendengarkan cerita teman-teman berkecimpung di penelitian hewan tentang keunikan hewan ini, dan diduga merupakan hewan purba yang tersisa. Tetapi seluruh informasi tersebut hanya sekedar penjelasan tanpa menjelaskan rujukan literatur.

Sabtu, 06 Agustus 2022

FILOGENI DAN PENYEBARAN SOA-SOA LAYAR (Hydrosaurus): ENDEMISITAS SULAWESI YANG MENGAGUMKAN

Oleh: Fachry Nur Mallo
Foto 1.  Individu jantan Hydrosaurus celebensis di tepi sungai antara Desa Wawopada-Desa Kolaka (Morowali).
Pengantar
Soa-soa Layar merupakan reptilia yang paling saya kagumi di Sulawesi, karena bentuknya seperti hewan purba, dengan adanya sirip seperti layar di punggung dan bagian atas ekornya.
Saya mengenal pertama kali hewan ini saat membaca buku Ekologi Sulawesi karangan Whitten dkk.  Dalam buku tersebut dijelaskan hewan ini juga terdapat di Cagar Alam Morowali (Whitten dkk. 1987).  Saat saya bertugas di Kolonodale, selama lima tahun saya sering berkunjung ke Cagar Alam Morowali dan sekitarnya, tetapi tidak pernah menjumpai hewan ini.  Mungkin karena sangat sensitif dengan kehadiran manusia, sehingga sulit dijumpai.

Kamis, 07 Juli 2022

STATUS KEBERADAAN BENTET KELABU (Lanius schach) DI SULAWESI

 

Foto Lanius schach

Pendahuluan

Penyebaran Bentet Kelabu secara global meliputi selatan tengah Kazakhstan, Selatan Uzbekistan, timur Turkmenistan, Kyrgyzstan, Tajikistan, utara tengah dan timur Afghanistan dan Pakistan, India dan utara Sri Lanka, tengah, selatan dan tenggara China (termasuk Hainan), Taiwan, utara Vietnam (Tonkin dan Annam), Nepal, utara dan selatan Laos dan utara Thailand, mungkin selatan Myanmar (Tenasserim), selatan Semenanjung Malaysia, Sumatra, Jawa, tenggara dan timur laut Kalimantan, Bali dan Nusa Tenggara, Philippina (kecuali Palawan dan Sulu) dan, Kepulauan Sulu (Jolo), di selatan Philippina, timur Papua (del Hoyo et al. 2016).

Minggu, 29 Mei 2022

BIOGEOGRAFI BURUNG PULAU PASOSO: CATATAN KOLONISASI DAN POLA MIGRASI DARI DARATAN SULAWESI

 

Oleh:  Fachry Nur Mallo* dan Moh. Ihsan Nur Mallo**

PENDAHULUAN

Desksripsi Pulau Pasoso
Pulau Pasoso beserta perairan lautnya merupakan kawasan Suaka Margasatwa Laut berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Sulawesi Tengah dengan luas kurang lebih 5.000 ha, yang dikhususkan untuk melindungi segala aktifitas penyu di tempat ini. Luas daratan Pulau Pasoso 49 ha. Secara administrasi Pulau Pasoso termasuk wilayah Desa Pomolulu Kecamatan Balaesang Kabupaten Donggala Provinsi Sulawesi Tengah. Dari hasil pengukuran KPB Spilornis menggunakan peta, diketahui jarak Pulau Pasoso dari daratan Sulawesi terdekat 12 m.
Sebagian besar daratan Pulau Pasoso merupakan hutan primer bercampur jenis tumbuhan pantai. Hutan ini ini kondisinya relatif masih baik. Pada vegetasi hutan ini ditemukan beragam jenis tumbuhan, yang dominan adalah Ficus spp., Diospyros sp., Alstonia sp. dan Dehaasia sp. Kondisi tanah pada vegetasi berhutan cukup subur. Tanah ini bercampur dengan serasah-serasah tanaman yang lapuk bersama batu karang yang mulai hancur (Sakada-BQD, 1991). Pesisir pantai Pulau Pasoso didominasi pantai bertebing karang. Tebing-tebing tersebut bila air laut pasang akan tergenangi air laut setengah atau seluruhnya. Di atas tebing-tebing terbentuk vegetasi tumbuhan pantai yang memiliki ciri-ciri berukuran kerdil, berbatang keras dan kurus, karena kurangnya unsur hara atau tanah menjadi tempat tumbuh tumbuhan. Selain areal pantai bertebing, juga terdapat pantai berpasir, tidak luas di bagian tenggara. Didominasi bentuk dari vegetasi formasi Baringtonia dan dari formasi Pescaprae.

Rabu, 26 Januari 2022

CATATAN BERBIAK BURUNG-MADU HITAM (Leptocoma aspasia) DAN BURUNG-MADU SANGIHE (Aethopyga duyvenbodei) DI PULAU SANGIHE

Oleh Fachry Nur Mallo

Gambar 1.  Individu betina Aethopyga duyvenbodei di Gunung Sahendaruman, sedang mengambil material sarang serat buah Ceiba sp.

Pendahuluan

Pulau Sangihe memiliki empat jenis Nectarinidae: Anthreptes malacensis, Leptocoma aspasia, Cinnyris jugularis dan Aethopyga duyvenbodei. Aethopyga duyvenbodei satu-satunya jenis endemik Pulau Sangihe.  Jenis paling penting di pulau ini, karena populasinya menurun drastis akibat hutan primer dan hutan sebagai serta hutan sekunder tua sebagai habitatnya mengalami deforestasi dan degradasi dalam skala luas, dikonversi menjadi lahan budidaya, sehingga hanya menyisakan sedikit blok-blok vegetasi hutan.  Walaupun burung ini juga dijumpai di area lahan budidaya, namun populasinya sedikit.  Populasinya terkonsentrasi di hutan primer dan sekunder tua, serta semak berbatasan hutan primer dan sekunder tua. Sementara vegetasi hutan tersebut hanya sedikit tersisa di Pulau Sangihe, sehingga statusnya dikategorikan IUCN dalam status Terancam (Endangered) (Mallo 2020).

Rabu, 17 November 2021

CATATAN JENIS TUMBUHAN BERBUNGA YANG DIKONSUMSI BURUNG INSECTIVORE DI AREAL PERKOTAAN DAN SUBURBIA KOTA BANDUNG

Oleh: Fachry Nur Mallo

Gambar 1.  Individu betina Cinnyris jugularis di Taman Maluku

Pendahuluan

Di areal perkotaan dan suburbia Kota Bandung tercatat enam jenis burung nectarivore; Psittaciformes (Loriculus galgulus, Loriculus pusillus dan Psittacula alexandri), Zosteropidae (Zosterops palpebrosus), Dicaedae (Dicaeum trochileum) dan Nectariniidae (Cinnyris jugularis), tidak termasuk Aethopyga mystacalis, yang dijumpai Siti Sutedja tahun 2018 di Taman Maluku.  Jenis burung tersebut diduga merupakan burung peliharaan terlepas.

Sabtu, 25 September 2021

AKTIVITAS MAKAN CINNYRIS JUGULARIS DAN DICAEUM TROCHILEUM DI KOTA BANDUNG

Oleh: Fachry Nur Mallo

Gambar 1.  Pachystachys lutea tanaman berbunga yang sering diisap Cinnyris jugularis dan Dicaeum trochileum di lokasi penelitian

A. Pendahuluan

Di Kota Bandung cukup banyak jenis burung insectivore.  Tetapi hanya satu jenis insectivore sejati (Cinnyris jugularis). Jenis burung insectivore sejati bentuk paruhnya mempunyai ciri spesifik; umumnya ramping, panjang, melengkung dan tajam. Berbagai jenis menyesuaikan dengan beberapa jenis bunga tumbuhan tertentu.  Jenis-jenis Nectariniidae yang mencirikan ciri tersebut. Umumnya jenis-jenis famili ini mengisap nektar pada bunga bertabung panjang dan pendek.

Selain itu, beberapa jenis burung frugivore dan insectivore menambah nutrisinya dengan mengisap nektar, diantaranya yang rutin adalah jenis-jenis Psittaciformes, Dicaeidae dan Zosteropidae. Umumnya burung-burung ini mengisap nektar pada bunga tidak bertabung atau paling tidak bunga bertabung pendek (Mallo 2019).