Gambar 1. Foto Babyrousa sp. |
Pengantar
Babyrousa merupakan salah satu hewan mamalia saya
paling saya kagumi di Sulawesi, dan juga banyak ahli fauna mengagumi hewan ini.
Kekaguman ini karena keunikannya yang sangat berbeda dengan kelompok babi lain.
Terutama taringnya yang khas, sehingga membentuk sub famili sendiri.
Saya sering membaca di beberapa artikel dan mendengarkan cerita teman-teman berkecimpung di penelitian hewan tentang keunikan hewan ini, dan diduga merupakan hewan purba yang tersisa. Tetapi seluruh informasi tersebut hanya sekedar penjelasan tanpa menjelaskan rujukan literatur.
Saya tertarik dan terkejut dengan kepurbaan hewan ini
setelah membaca tulisan Michaux bahwa Babyrousa adalah basal dari semua Suidae
lainnya, dan karena itu merupakan produk awal evolusi seluruh jenis babi yang
ada di dunia (Michaux 2010). Saya penasaran, lalu mencari literatur terkait
tulisan tersebut. Beberapa bulan kemudian saya mendapatkan tulisan Frantz et
al. (2015), memperjelas penjelasan Michaux dalam tulisannya.
Selain Babyrousa, saya juga mengagumi Celebochoerus
heekereni, jenis babi purba endemik Sulawesi dan Luzon yang telah punah.
Hewan ini tidak kalah unik dengan Babyrousa, bahkan babi ini nampak aneh di
keluarga Suidae, dengan memiliki sepasang taring di moncong, seperti tanduk
kerbau, dan dua taring kecil dibawahnya seperti pisang tanduk tertancap.
Satu jenis babi endemik lain Sulawesi (Sus
celebensis) juga akan diuraikan dalam tulisan ini. Babi ini menarik karena telah didomestikasi
sejak lama ke Kepuluan Maluku, Papua dan Pulau Simeulue (Sumatera).
Total Sulawesi memiliki tujuh jenis babi, termasuk
yang telah punah, yaitu: Babyrousa babyrussa, Babyrousa bolabatuensis,
Babyrousa celebensis, Babyrousa togeanensis, Sus celebensis
dan Sus scrofa (Maryanto et al. 2019) dan Celebochoerus
heekereni. Babyrousa bolabatuensis dan Celebochoerus heekereni
telah punah. Dan seluruhnya endemik Sulawesi kecuali Sus scrofa.
Dari delapan jenis babi di Indonesia Sulawesi menjadi
penyumbang tertinggi, hanya dua jenis tidak terdapat di Sulawesi (Sus barbatus
[Kalimantan dan Sumatera] dan Sus verrucosus [Jawa]). Dalam penjelasan selanjutnya, Sus scrofa
tidak dijelaskan, karena hanya merupakan jenis introduksi ke Sulawesi.
Biogeografi
babi Sulawesi
Babyrousa
Babi ini terbatas pada daerah terpencil di Sulawesi, Kepulauan
Togean (Pulau Malenge, Pulau Talatoh, Pulau Togean dan Pulau Batudaka), Kepulauan
Sula (Taliabu, dan Sanana) dan Pulau Buru.Gambar 2. Foto Babyrousa sp. sedang makan
Babyrousa secara anatomis berbeda dari babi lain di
dunia, terutama taringnya; jantan bertaring panjang yang mencuat dan melengkung
di atas moncongnya, taring ini tumbuh dari rahang atas menembus hidung dan
melengkung, sedangkan betina bertaring kecil.
Menurut Frantz et al. (2015) kelompok babi ini
dapat dianggap sebagai peninggalan dari Suidae Miosen yang dulu beragam tetapi
sekarang di tempat lain sudah punah. Merupakan babi purba, yang saat masih
bertahan, sementara babi lain telah punah. Dan mewakili “garis keturunan
misterius”, karena tidak ada spesies yang berkerabat dekat di luar Sulawesi
(Misalnya babi Afrika lebih dekat hubungannya dengan semua babi Asia lainnya
daripada Babyrousa), dan dari catatan fosil di luar Sulawesi Babyrousa
tidak ditemukan.
Dalam pohon filogeni babi menurut Frantz et al.
(2015) menempatkan Babyrousa basal bagi semua jenis kelompok babi yang
hidup sekarang di dunia, termasuk genera yang telah punah (Propotamochoerus
dan Microstonyx).
Dengan demikian Babyrousa adalah kelompok babi
yang paling tua masih tersisa di dunia. Menurut Michaux (2010) Babyrousa
merupakan produk awal evolusi dari seluruh jenis babi yang ada di dunia.
Dari penelitian Frantz et al. (2018), yang
menguatkan penelitian sebelumnya bahwa baik Sus celebensis dan Babyrousa
spp. bersifat monofiletik, berhubungan dengan taksa yang paling dekat di pulau-pulau
tetangga (misalnya Kalimantan), yang konsisten dengan hanya satu kolonisasi
Sulawesi.
Babyrousa
mungkin juga tersebar ke Sulawesi dari daratan Asia melalui rute Pulau Taiwan
ke Philippina, sebagaimana penyebaran Celebochoerus heekereni diduga melalui
rute tersebut. Hal ini terkait hubungannya kekerabatannya dengan Celebochoerus
cagayanensis di Luzon Utara.Gambar 3. Filogeni Suidae yang belum punah dan telah punah (menurut Frantz et al. 2015)
Analisis jam molekuler baru-baru ini melaporkan bahwa
Babyrousa menyimpang dari Suinae selama Miosen Tengah, sekitar 13 Mya (18–9 Mya),
sekitar 3 Mya sebelum Suinae Afrika dan Eurasia menyimpang dari nenek moyang
yang sama (14–7 Mya). Dan, mungkin telah
mengkoloni Wallacea sejak awal 13 Mya. Tetapi penyebaran awal Babyrousa
ke Sulawesi pada Palaeogen Akhir juga telah disarankan atas dasar bukti paleontologis
(Frantz et al. 2015).
Celebochoerus
heekereni
Babi ini telah punah, dan sudah sejak lama diketahui
dari Pliosen-Pleistosen Sulawesi, hanya dari fosil pada Formasi Wallanae dan
Formasi Tanrung di Barat Daya Sulawesi. Tetapi baru-baru ini juga dilaporkan
ditemukan fosil genera ini di Lembah Cagayan di Luzon, Filipina Utara (Celebochoerus
cagayanensis).
Menarik, karena babi ini memiliki bentuk yang unik,
yang nampak aneh di keluarga Suidae, dengan memiliki sepasang taring dimoncong,
seperti tanduk kerbau, dan dua taring kecil di bawahnya seperti pisang tanduk
tertancap. Celebochoerus cagayanensis kemungkinan besar berusia lebih
muda daripada catatan tertua Celebochoerus heekereni di Sulawesi (Ingicco
et al. 2016).
Asal usul Celebochoerus masih belum jelas.
Beberapa penulis (Hooijer 1954; Thenius, 1970; Suyono, 2009 dalam
Ingicco et al. 2016) mengusulkan Propotamochoerus
dari Pliosen pada lapisan Tatrot, Siwalik di India sebagai nenek moyang yang
paling mungkin. Sementara Aziz (1990) dalam Ingicco et al. (2016) melihat beberapa hubungannya dengan Phacochoerus
(babi Afrika) mengingat taring besar dan beberapa tengkorak lainnya. Ingicco et al. (2016) berpandangan
kemiripan dangkal dengan yang terakhir (Phacochoerus) harus dikaitkan
dengan evolusi konvergensi.Gambar 4. Sketsa Celebochoerus heekereni dan perbandingannya dengan manusia (Sumber: rekonstruksi National Geographic Indonesia)
Nenek moyang Celebochoerus
mungkin harus dicari baik di Taiwan atau Jawa. Geraham Celebochoerus dari
Filipina atau dari Sulawesi jauh lebih sederhana daripada geraham spesies fosil
Jawa kontemporer Sus macrognathus dan Sus brachygnathus. Potamochoerus
Taiwan digambarkan memiliki geraham sederhana seperti dua spesies Celebochoerus.
Fosil Taiwan ini bisa jadi terkait dengan Celebochoerus. Bukti saat ini
menunjukkan bahwa dua spesies Celebochoerus tampak lebih dekat dan
sezaman Suidae Taiwan daripada spesies Sunda karena pola geraham sederhana yang
sebanding. Saat ini tidak dapat ditolak jalur migrasi Indonesia ke Filipina
melalui kolonisasi Utara melalui Taiwan. Hal itu juga telah dilakukan oleh
beberapa spesies Murinae dan Crocidura.
(Ingicco et al. 2016).
Sus
celebensis
Merupakan jenis endemik Sulawesi, tetapi sebagian juga
berpandangan dijumpai liar di Flores dan Timor. Tetapi diduga di kedua tempat
tersebut merupakan jenis introduksi, yang telah dijinakkan dan diangkut ke
daerah tersebut selama migrasi awal manusia. Merupakan anggota kelompok babi
dikenal dengan “babi kutil”. Kelompok ini mencakup beberapa spesies, seperti Sus
barbatus, Sus verrucosus (Jawa), Sus celebensis, juga jenis di
Philippina, dan babi hutan raksasa Hylochoerus meinertzhageni (Frantz et
al. 2015). Hylochoerus meinertzhageni tersebar di Afrika.
Dalam pohon filogeni Frantz et al. (2015)
menempatnya babi ini satu clade sepasang dengan Sus barbatus (tersebar
di daratan Asia Tenggara, juga Semenanjung Malaysia, Sumatera, Kalimantan pulau-pulau
kecil di Kepulauan Sulu). Dengan demikian kerabat terdekat babi ini adalah Sus
barbatus. Juga berkerabat dekat dengan dua jenis Babi Kutil Philippina, Sus
cebifrons (Cebu, Negros, Panay, Masbate, Guimaras, dan Siquijor) dan Sus
philippensis (Luzon, Biliran, Samar, Leyta, Mindoro, Mindanao, Jilo, Polilo
dan Catanduanes).
Sus celebensis
telah diintroduksi ke Papua, Maluku dan Pulau Simeulue (barat laut Sumatera).
Introduksi Sus celebensis ke Pulau Simeulue sejauh 3.500 km dari
Sulawesi tetap belum terpecahkan hingga saat ini, karena tidak ada bukti untuk
melacak rute atau waktu terkait hal itu. Juga dilaporkan di pulau Roti dan Sawu
(Groves 1983; Bell 1987 dalam Burton et al. 2017). Bentuk
hibridisasi Sus celebensis dengan Sus scrofa dilaporkan tersebar
di beberapa pulau, termasuk Salawati, Kei Besar, Dobu, Seram, Ambon, Bacan,
Ternate, Morotai, dan Papua (Groves 1981, 1983; Oliver et al. 1993 dalam
Burton et al. 2017).
Informasi genetik pada babi dari Halmahera, yang
sebelumnya disebut sebagai feral Sus celebensis, telah menunjukkan bahwa
memiliki genetik yang lebih besar daripada babi Papua. Urutan mtDNA menunjukkan
bahwa babi Papua memiliki haplotlpes yang mengelompok dengan babi dari
Halmahera, Haltaii, dan Vanun atu dan ditemukan di 'clade Pasifik' (Larson et
al. 2005 dalam Burton et al. 2017).
Ucapan
terima kasih
Penulis menyampaikan terima kasih kepada Moh. Ihsan
Nur Mallo (adik penulis), yang telah membantu mengedit dan memposting tulisan
ini.
Daftar
Pustaka
Burton, J.A., Mustari, A.H. & Rejek,
I.S. (2017). Sulawesi Warty Pig Sus
celebensis (Muller &Schlegel, 1843). In book: Ecology, Conservation and
Management of Wild Pigs and Peccaries (pp.184-192) Edition: I Chapter:19
Publisher: Cambridge University Press
Frantz, L., Meijaard, E., Gongora, J.,
Haile, J., Groenen, M.A.M., & Larson, G.
(2015). The Evolution of Suidae.
AV04CH03-Larson ARI 26 October 2015 11:38
Ingicco, T., van den Bergh, G., de Vos,
J., Castro, A., Amano, N. & Bautista, A. (2016). A new species of Celebochoerus (Suidae, Mammalia) from the Philippines
and the paleobiogeography of the genus Celebochoerus Hooijer, 1948.
Geobios, 49 (4), 285-291.
Maryanto, I., Maharadatunkamsi, Achmadi,
A.S., Wiantoro, S., Sulistyadi, E., Yoneda, M., Suyanto, A, & Sugardjito,
J. (2019). Checklist of the Mammals of
Indonesia: Scientific, English, Indonesia Name and Distribution Area. Pusat
Penelitian Biologi-Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. Desember 2019.
Michaux, B. (2010). Biogeology of Wallacea: geotectonic models, areas of endemism, and natural
biogeographical units. Biological Journal of the Linnean Society, 2010,
101, 193–212
Tidak ada komentar:
Posting Komentar