Jumat, 15 Juni 2018

CATATAN MAKANAN DAN PERKEMBANGBIAKAN LUNTUR JAWA (APALHARPACTES REINDWARTII)


Oleh Fachry Nur Mallo
Gambar 1.  Apalharpactes reindwardtii sedang mengisap cairan buah
Pendahuluan
       Luntur Jawa (Apalharpactes reinwardtii) merupakan burung endemik dataran tinggi Jawa Barat dan bagian barat Jawa Tengah (Gunung Slamet).  Dijumpai terbatas hanya pada beberapa tempat (Mallo, 2018).
  Sebelumnya dianggap satu jenis dengan Apalharpactes mackloti, allopatric Apalharpactes reinwardtii yang tersebar pada hutan-hutan pegunungan tropis subur dan basah ketinggian 700-2300 m pegunungan bukit Barisan, Sumatera.  Nampak keduanya hidup pada vegetasi lebih subur dan basah di dataran tinggi (Mallo, 2018).

Selasa, 29 Mei 2018

BURUNG-BURUNG DATARAN TINGGI JAWA BARAT: CATATAN DI RANCA UPAS


Oleh: Fachry Nur Mallo
Gambar 1. Foto Nisaetus bartelsi.  saya menjumpainya pertamakali saat mendapatkan foto ini
Pada April hingga Nopember angin timur yang bersifat kering berasal dari udara zona bertekanan tinggi di padang gurun Australia bergerak menyapu daerah disekitarnya; termasuk Nusa  Tenggara, selatan Sulawesi, Jawa hingga Sumatera bagian selatan. Dampaknya, mempengaruhi vegetasi yang bersifat kering pada daerah yang di laluinya. Jika kita melakukan perjalanan dari Timor hingga Jawa, jejak-jejak dampak  kekeringan tersebut dapat kita saksikan. Timor dan pulau-pulau di timur Nusa Tenggara merasakan dampak yang paling parah, sehingga vegetasi terbentuk di kawasan tersebut berupa hutan-hutan monsoon bersifat tandus dan kering. Semakin ke barat kondisi vegetasi  perlahan-lahan berubah semakin subur, masing-masing melewati barat Nusa Tenggara, Bali, Jawa Timur, Jawa Tengah dan  Jawa Barat. Sehingga diantara daerah tersebut, Jawa Barat yang paling subur vegetasinya, karena hanya merasakan sedikit dampak kekeringan tersebut. 

Minggu, 06 Mei 2018

CATATAN BARU GAJAHAN BESAR (NUMENIUS ARQUATA ) DI SULAWESI

Foto 1.  Numenius arquata dan Limosa limosa di Muara Sungai Palu

Awal 2014 Dadang Dwi Putra menyerahkan beberapa fotonya hasil hunting  pada 15 Oktober 2013 di pesisir Pantai Talise dan Muara Sungai Palu. Dia juga menanyakan  jenis gajahan dalam foto tersebut, terbang bersama sejenis burung pantai di Muara Sungai. Saya lama mengamati foto tersebut tetapi saya tidak mengetahui jenis kedua  burung tersebut.  
Setelah pulang ke rumah dan beberapa hari kemudian, saya mencoba mengidentifikasi lagi, tetapi tetap belum berhasil mengetahui jenisnya. Saya hanya menduga mungkin Numenius madagascariensis muda, tetapi hal itu belum meyakinkan saya.

Selasa, 24 April 2018

BURUNG-BURUNG PEMUKIMAN KOTA BANDUNG: KAJIAN BIOGEOGRAFI PULAU


Oleh Fachry Nur Mallo
Gambar 1: Psilopogon haemacephalus
Jika kita berkunjung ke Kota Bandung dan sekitarnya kita masih dapat menikmati aktivitas berbagai jenis burung di taman-taman kota, atau areal lain berpohon cukup luas. Misalnya di halaman kantor atau rumah cukup luas, vegetasi pemukiman pinggiran kota atau areal berair terpencil.
Selama tinggal di Kota Bandung dengan jangka waktu cukup lama, saya telah melakukan kunjungan rutin ke beberapa tempat di kota ini dan sekitarnya, dan telah menjumpai 49 jenis burung.  Sebenarnya catatan ini belum menggambarkan keseluruhan jumlah jenis burung di Kota Bandung dan sekitarnya, karena masih banyak jenis yang pernah tercatat tidak saya jumpai, mungkin karena sudah punah, atau merupakan jenis yang jarang.

Senin, 16 April 2018

KOMPETISI DAN PEMBAGIAN SUMBERDAYA BURUNG BURUNG DI SULAWESI


Oleh : Fachry Nur Mallo
Gambar 1:  Foto Myza celebensis, jenis Meliphagidae di dataran tinggi

Pendahuluan

Pulau Sulawesi sangat menarik perhatian para ornitolog sejak beberapa abad yang lalu hingga sekarang, karena memiliki kekayaan endemisitas burung yang tinggi. Dari   462  jenis  burung  yang  tercatat  di  pulau ini (Mallo, dkk. 2017), 134 jenis diantaranya endemik kawasan ini (del Hoyo, et al., 2014, 2016),  dan  menjadi penyumbang terpenting kekayaan burung endemik di Indonesia. Yang lebih menarik, kawasan ini memiliki banyak jenis yang khas. Hal ini tercermin dengan terdapatnya satu famili  endemik  kawasan  ini;  Hylocitreidae,  beranggotakan  dua jenis, dan 17 marga endemik; Macrocephalon, Cryptophaps, Rhampococcyx, Aramidopsis, Meropogon, Cittura, Myza,  Coracornis,  Celebesica,  Eutrichomyias, Malia, Streptocitta, Enodes, Scissirostrum, Geomalia, Cataponera dan Heinrichia.