Minggu, 06 Mei 2018

CATATAN BARU GAJAHAN BESAR (NUMENIUS ARQUATA ) DI SULAWESI

Foto 1.  Numenius arquata dan Limosa limosa di Muara Sungai Palu

Awal 2014 Dadang Dwi Putra menyerahkan beberapa fotonya hasil hunting  pada 15 Oktober 2013 di pesisir Pantai Talise dan Muara Sungai Palu. Dia juga menanyakan  jenis gajahan dalam foto tersebut, terbang bersama sejenis burung pantai di Muara Sungai. Saya lama mengamati foto tersebut tetapi saya tidak mengetahui jenis kedua  burung tersebut.  
Setelah pulang ke rumah dan beberapa hari kemudian, saya mencoba mengidentifikasi lagi, tetapi tetap belum berhasil mengetahui jenisnya. Saya hanya menduga mungkin Numenius madagascariensis muda, tetapi hal itu belum meyakinkan saya.

Selasa, 24 April 2018

BURUNG-BURUNG PEMUKIMAN KOTA BANDUNG: KAJIAN BIOGEOGRAFI PULAU


Oleh Fachry Nur Mallo
Gambar 1: Psilopogon haemacephalus
Jika kita berkunjung ke Kota Bandung dan sekitarnya kita masih dapat menikmati aktivitas berbagai jenis burung di taman-taman kota, atau areal lain berpohon cukup luas. Misalnya di halaman kantor atau rumah cukup luas, vegetasi pemukiman pinggiran kota atau areal berair terpencil.
Selama tinggal di Kota Bandung dengan jangka waktu cukup lama, saya telah melakukan kunjungan rutin ke beberapa tempat di kota ini dan sekitarnya, dan telah menjumpai 49 jenis burung.  Sebenarnya catatan ini belum menggambarkan keseluruhan jumlah jenis burung di Kota Bandung dan sekitarnya, karena masih banyak jenis yang pernah tercatat tidak saya jumpai, mungkin karena sudah punah, atau merupakan jenis yang jarang.

Senin, 16 April 2018

KOMPETISI DAN PEMBAGIAN SUMBERDAYA BURUNG BURUNG DI SULAWESI


Oleh : Fachry Nur Mallo
Gambar 1:  Foto Myza celebensis, jenis Meliphagidae di dataran tinggi

Pendahuluan

Pulau Sulawesi sangat menarik perhatian para ornitolog sejak beberapa abad yang lalu hingga sekarang, karena memiliki kekayaan endemisitas burung yang tinggi. Dari   462  jenis  burung  yang  tercatat  di  pulau ini (Mallo, dkk. 2017), 134 jenis diantaranya endemik kawasan ini (del Hoyo, et al., 2014, 2016),  dan  menjadi penyumbang terpenting kekayaan burung endemik di Indonesia. Yang lebih menarik, kawasan ini memiliki banyak jenis yang khas. Hal ini tercermin dengan terdapatnya satu famili  endemik  kawasan  ini;  Hylocitreidae,  beranggotakan  dua jenis, dan 17 marga endemik; Macrocephalon, Cryptophaps, Rhampococcyx, Aramidopsis, Meropogon, Cittura, Myza,  Coracornis,  Celebesica,  Eutrichomyias, Malia, Streptocitta, Enodes, Scissirostrum, Geomalia, Cataponera dan Heinrichia.

Sabtu, 10 Maret 2018

PENGAMATAN JALAK MAWAR (Pastor roseus) DI BANDUNG JAWA BARAT

(Observation Rosy Starling  (Pastor roseus) in Bandung, West Java)
Foto 1.  Jalak Mawar teramati di Taman Maluku, Bandung
Jalak Mawar (Pastor roseus) hidup alami di stepa selatan Ukraina, hingga menyebar  ke tengah dan timur Kazakhstan, barat Altai dan barat Mongolia, selatan hingga timur Turki, utara Iran, Afganistan dan barat laut Cina, kadang-kadang tenggara Eropa Barat; Republik Ceko, Hungaria, Italia, mungkin berbiak di  Rumania, Bulgaria, Balkan,  juga kadang lebih jauh ke timur Rusia. Saat musim dingin sebagian besar populasinya bermigrasi ke India dan Sri Lanka (del Hoyo et al., 2016).

Kamis, 15 Februari 2018

BIOGEOGRAFI BURUNG-BURUNG DI KEPULAUAN BANGGAI-SULA, SULAWESI

(Biogeography of birds in Banggai-Sula Islands, Sulawesi)
Oleh: Fachry Nur Mallo
Gambar 1.  Corvus unicolor, spesies endemik Kepulauan Banggai-Sula
LATAR BELAKANG GEOLOGI
Satyana (2007) mengidentifikasi lima peristiwa benturan di Indonesia yang membentuk atau mempengaruhi sejarah tektonik Indonesia sepanjang Kenozoikum. Salah satunya adalah terjadi dari 11-5 Ma (Miosen akhir-Pliosen paling awal) ketika mikro-kontinen Buton-Tukang Besi dan Banggai-Sula membentur ofiolit Sulawesi Timur. Terjadinya benturan mikro-kontinen Buton-Tukang Besi dan Banggai-Sula ofiolit Sulawesi Timur, ketika mikro-kontinen ini terlepas dari Kepala Burung Papua dan bergerak ke barat oleh Sesar Sorong. Benturan ini telah membentuk jalur lipatan dan sesar Buton di selatan Sulawesi Timur dan Jalur Batui di daerah benturan Banggai dan Sulawesi Timur. Kedua benturan ini telah diikuti tectonic escapes pasca benturan dalam bentuk-bentuk  rotasi lengan-lengan Sulawesi, pembentukan sesar-sesar mendatar besar Palu-Koro, Kolaka, Lawanopo, Hamilton, Matano, dan Balantak, dan pembukaan Teluk Bone. Gerak sesar-sesar mendatar ini di beberapa tempat telah membuka cekungan-cekungan koyakan (pull-apart basin) akibat mekanisme trans-tensional seperti danau-danau Poso, Matano, Towuti juga Depresi Palu.