Senin, 28 September 2020

PENGGUNAAN RELUNG HABITAT BURUNG DI KOTA BANDUNG: PENGAMATAN DI TAMAN MALUKU DAN LEMBAGA PEMASYARAKATAN SUKAMISKIN

 Oleh Fachry Nur Mallo

Gambar 1. Pycnonotus aurigaster di Taman Maluku

PENDAHULUAN

Jenis burung yang terdapat di Kota Bandung cukup tinggi, karena di kota ini masih memiliki areal bervegetasi cukup luas di beberapa tempat.  Areal tersebut sebagian tersebar di taman-taman kota. Selain itu, juga pada areal halaman rumah, halaman perkantoran dan ruang publik yang juga ditanami tumbuhan, baik jenis tumbuhan semak maupun tumbuhan tinggi.

Penggunaan relung habitat burung di Kota Bandung merupakan suatu obyek kajian menarik, obyek ini jarang diketahui.  Kegiatan survei dan pengamatan lebih sering dilakukan untuk inventarisasi jenis dan populasinya.

Minggu, 02 Agustus 2020

CATATAN JENIS BURUNG DAN PENGGUNAAN RELUNG AREAL PERSAWAHAN SEKITAR PEMUKIMAN RANCA EKEK, BANDUNG


Oleh: Fachry Nur Mallo
Pendahuluan
Persawahan di Ranca Ekek memiliki areal cukup luas, yang bersambung dengan rawa yang cukup luas. Rawa ini letaknya cukup jauh dari pemukiman sehingga tidak mencakup dalam pembahasan tulisan ini.  Penulis hanya membatasi membahas jenis-jenis burung yang melakukan aktifitas di areal persawahan dan areal rawa di sekitar permukiman, dan disekitarnya ramai dengan aktifitas manusia dan kendaraan.
Gambar 1. Glareola maldivarum, migran dari Australia saat musim dingin
Vegetasi rawa umumnya terbentuk di sekitar areal persawahan ini, dan dibeberapa tempat saling bercampur.  Jenis tumbuhan di areal ini didominasi vegetasi Typha sp, Ipomea aquatica, Otellia spp., Monochoria sp. dan Colocasia sp., selain padi (Oryza sativa) sebagai tanaman utama.  Tanaman yang lebih tinggi dijumpai Bambusa sp., Senna sp. dan Lannea coromandeliana.

Kamis, 25 Juli 2019

CATATAN PENGAMATAN PENCARIAN MAKAN DAN PERKEMBANGBIAKAN CIUNG-MUNGKAL JAWA (Cochoa azurea) DI RANCA UPAS, JAWA BARAT


PENDAHULUAN
Cochoa azurea merupakan burung endemik pegunungan Jawa Barat dan Jawa Tengah (del Hoyo & Collar 2016). Burung ini hidup pada tajuk-tajuk pepohonan tinggi di hutan primer dataran tinggi  ketinggian 1.000 hingga 3.000 m. Masih berkerabat dengan Cochoa beccarii, yang juga hidup di atas ketinggian 1.000 m hutan primer sumatera (MacKinnon 1991, 1992).
Foto 1.  Induk Cochoa azurea di sarang
Menjumpai burung ini tidaklah mudah, karena populasinya sedikit. Saya rutin hampir setiap minggu mengunjungi hutan Ranca Upas, tetapi hampir dua tahun baru saya dapat berhasil menjumpai burung ini, tepatnya pada 7 September 2014. Sebelumnya saya hanya mendengar suaranya sebanyak dua kali.  Sejak perjumpaan tersebut, saya semakin sering menjumpainya di kawasan ini. Menjadi pertanyaan saya, mengapa burung ini sebelumnya jarang terlihat, dan pada waktu selanjutnya umum terlihat, apakah burung ini merupakan pengembara?  Saya belum mengetahui jawabannya.

Senin, 08 Juli 2019

STATUS KEBERADAAN TRULEK JAWA (VANELLUS MACROPTERUS); KOMPARASI DENGAN SURVIVAL LIMA SPESIES BURUNG SULAWESI

Gambar 1: Sketsa sepasang Vanellus macropterus @ Fachry Nur Mallo
Vanellus macropterus merupakan endemik Jawa, belum tercatat sejak 1940 hingga sekarang. Sejak tahun 2001 hingga 2012 telah dilakukan survei mencari keberadaannya, tetapi tidak dijumpai. Banyak ornitolog berpendapat populasi burung ini masih ada, terbatas pada tempat terpencil belum diketahui, tetapi sebagian berpendapat telah punah. IUCN menetapkan statusnya “kritis” (critically endangered) dalam kategori burung terancam punah. 
Saat ini data Vanellus macropterus sangat sedikit tersedia, sehingga burung ini cenderung menjadi misteri saat ini. Oleh karena itu apapun survei, penelitian dan telahaan dilakukan terhadap burung ini akan sangat bermanfaat.
Saya juga mencoba melakukan telahaan status burung ini yang sifatnya hipotesis, dengan membandingkan survival lima spesies burung Sulawesi (Cacatua sulphurea, Ciconia episcopus, Tachybaptus ruficollis, Corvus unicolor dan Eutrichomyias rowleyi), saya duga memiliki kesamaan dengan burung ini dalam survival. Saya juga menulis survei yang dilakukan mencari burung ini, kondisi habitat dan sekilas tingkah lakunya, ornitolog dulu pernah menjumpai burung ini, penyebab menurun populasi/punah, dugaan keberadaannya saat ini dan rekomendasikan dilakukan saat ini. Saya sangat mengharap semoga tulisan ini akan bermanfaat bagi siapa saja yang mempunyai perhatian terhadap burung ini, atau secara umum burung-burung di Jawa.

Selasa, 28 Mei 2019

KOMPETISI DAN PEMBAGIAN SUMBERDAYA CEKAKAK JAWA (HALCYON CYANOVENTRIS) DAN CAKAKAK SUNGAI (TODIRAMPHUS CHLORIS) DI JAWA


Oleh  Fachry Nur Mallo
Gambar 1.  Kontak fisik Halcyon cyanoventris dan Todiramphus chloris di lahan  persawahan
 di kaki Gunung Papandayan Garut, Jawa Barat (@ Budi Hermawan)
A. Pendahuluan
Suara --cek-cek-cek--, atau --cekekk-cekekk--, diulang beberapa kali, penuh semangat, keras dan ribut, merupakan simponi alam saya dengar pertama kali disekitar kediaman saya di Lembah Palu dan Poso setiap bangun pagi.  Suara Todiramphus chloris ini nampak menonjol dari suara alam lain.  Suara ini selalu saya dengar saat melakukan kunjungan di semua tempat Sulawesi, terutama di dataran rendah; dari pulau-pulau kecil, pesisir pantai hingga ketinggian 1500 m, yang menunjukkan populasinya umum di tempat-tempat tersebut. 
Saat tinggal di Bogor, saya merasa ada sesuatu yang hilang di alam saat bangun pagi, suara tersebut tidak pernah saya dengan lagi, justru saat berjalan di sekitar vegetasi terpencil, terutama terdapat genangan air atau sungai kecil tidak jauh dari kediaman saya, kadang mendengar suara kerabat jauhnya –Halcyon cyanoventris–. Suasana ini juga saya rasakan saat mengunjungai banyak tempat di Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jogyakarta.