Oleh: Fachry Nur Mallo* dan Moh. Ihsan Nur Mallo**
PENDAHULUAN
Oleh: Fachry Nur Mallo* dan Moh. Ihsan Nur Mallo**
PENDAHULUAN
Oleh Fachry Nur Mallo
![]() |
| Gambar 1. Ilustrasi Palaeoloxodon namadicus, jenis gajah terakhir menghuni Sulawesi (Sumber: @Life Restoration di Wikipedia) |
Pengantar
Jika kita berbicara gajah sebagai hewan
Sulawesi, maka kita akan merasa heran dan tidak percaya, karena selama ini
gajah tidak dikenal sebagai hewan pernah menghuni Sulawesi. Kita hanya mengenal
Sumatera dan di Kalimatan pulau yang dihuni gajah di Indonesia.
Sesungguhnya Sulawesi pernah di huni
jenis-jenis gajah purba, yang saat ini tidak ditemukan lagi di dunia. Kepunahan
gajah terakhir di Sulawesi relatif belum lama, di era manusia sudah hadir di
daratan Sulawesi.
Awalnya penulis mengenal gajah penghuni Sulawesi tahun 1987 setelah membaca buku Geologi Sulawesi karangan Whitten, dkk. Saat itu tidak ada perhatian penulis terhadap hewan ini, sehingga menganggap bukan hewan penting di Sulawesi, dan kebetulan menghuni daratan Sulawesi yang terisolir.
| Gambar 1. Individu betina Aethopyga duyvenbodei di Gunung Sahendaruman, sedang mengambil material sarang serat buah Ceiba sp. |
Pendahuluan
Pulau Sangihe memiliki empat jenis Nectarinidae: Anthreptes malacensis, Leptocoma aspasia, Cinnyris jugularis dan Aethopyga duyvenbodei. Aethopyga duyvenbodei satu-satunya jenis endemik Pulau Sangihe. Jenis paling penting di pulau ini, karena populasinya menurun drastis akibat hutan primer dan hutan sebagai serta hutan sekunder tua sebagai habitatnya mengalami deforestasi dan degradasi dalam skala luas, dikonversi menjadi lahan budidaya, sehingga hanya menyisakan sedikit blok-blok vegetasi hutan. Walaupun burung ini juga dijumpai di area lahan budidaya, namun populasinya sedikit. Populasinya terkonsentrasi di hutan primer dan sekunder tua, serta semak berbatasan hutan primer dan sekunder tua. Sementara vegetasi hutan tersebut hanya sedikit tersisa di Pulau Sangihe, sehingga statusnya dikategorikan IUCN dalam status Terancam (Endangered) (Mallo 2020).
Oleh:
Fachry Nur MalloGambar 1. Foto Upupa epops di Bali, bertengger di fasilitas umum (sumber foto: Yuyun Yanwar)
PENDAHULUAN
Pada akhir tahun 2020 penulis telah menulis draf tulisan ini. Niat ini didorong setelah mengikuti “Kuliah Subuh”, tausiah Ust. Luthfi Hasan Ishaaq tentang tafsir Al-Quran setiap subuh, yang begitu menarik minat penulis menelaah perilaku burung ini menurut penjelasan Al-Quran, dan juga karena kegembiraan saya setelah mas Ari Hidayah mengirim hasil jepretan foto burung ini dari Kepulauan Wakatobi kepada saya sebagai bukti penemuan burung ini di kepulauan tersebut. Kiriman foto tersebut dapat membulatkan hati saya memasukan burung ini dalam daftar burung Sulawesi. Sebelumnya saya mendapatkan kiriman artikel dari mas Imam Taufiqurahman ditulis MacNeil dan Lambaihang (2013), penemuan burung ini oleh Jukber “Bobby” Lambaihang pada 28 September 2001 di area Tangkoko Lodge, Bitung. Penemuan ini sedikit meragukan saya karena hanya testimoni hasil pengamatan beberapa tahun sebelumnya oleh penulis kedua kepada MacNeil (penulis pertama).
Oleh:
Fachry Nur MalloGambar 1. Individu betina Cinnyris jugularis di Taman Maluku
Pendahuluan
Di areal perkotaan dan suburbia Kota Bandung tercatat enam jenis burung nectarivore; Psittaciformes (Loriculus galgulus, Loriculus pusillus dan Psittacula alexandri), Zosteropidae (Zosterops palpebrosus), Dicaedae (Dicaeum trochileum) dan Nectariniidae (Cinnyris jugularis), tidak termasuk Aethopyga mystacalis, yang dijumpai Siti Sutedja tahun 2018 di Taman Maluku. Jenis burung tersebut diduga merupakan burung peliharaan terlepas.