Selasa, 30 April 2019

CATATAN TINGKAH LAKU, EKOLOGI DAN BIOGEOGRAFI CIKARAK SULAWESI (Myza celebensis)


NOTES  BEHAVIOR, ECOLOGY AND BIOGEOGRAPHY DARK-EARED MYZA (Myza celebensis)
(Fachry Nur Mallo)
PENDAHULUAN
Myza celebensis merupakan burung sangat khas Sulawesi. Saking khas sehingga endemisitasnya sampai ke tingkat marga. Hanya berkerabat dekat dengan Myza sarasinorum, yang juga  terbatas hidup di dataran tinggi Sulawesi. Jika dibanding kerabatnya  di Indonesia bagian timur, burung ini terlihat sangat khas.
Sosoknya dominan coklat, bagian atas bercoret hijau, bagian bawah bercoret gelap dan tidak memiliki warna terang. Melihatnya menimbulkan kesan merupakan burung purba Sulawesi.
Foto 1.  Myza celebensis sedang mengisap nektar bunga Rhododendron sp.
Sangat disayangkan kehidupannya sangat jarang diketahui, akibat kurangnya dilakukan penelitian, untuk mengungkap kehidupannya. Maka tidak heran data burung ini sangat kurang tersedia, terutama perilaku dan ekologinya, khususnya perkembangbiakannya.

Minggu, 24 Maret 2019

CACATAN TINGKAH LAKU, EKOLOGI DAN BIOGEOGRAFI DELIMUKAN SULAWESI (Gallicolumba tristigmata)


NOTES  BEHAVIOR, ECOLOGY AND BIOGEOGRAPHY
SULAWESI GROUND-DOVE (Gallicolumba tristigmata)
Oleh: Fachry Nur Mallo
PENDAHULUAN
Gallicolumba tristigmata merupakan merpati-tanah cantik penghuni lantai hutan primer dan sekunder tua Sulawesi.  Perpaduan punggung, sayap, tunggir dan ekor coklat tua,  muka, dagu dan depan leher putih, dahi dan perut kuning, mahkota dan belakang tengkuk biru, samping leher ungu tua membuat pola warna yang indah pada burung ini. Seperti melihat pola lukisan yang sangat indah.
Burung ini merupakan endemik Sulawesi, dan hanya dijumpai terbatas di daratan utama, pada kawasan hutan primer dan hutan sekunder tua di dataran rendah dan dataran tinggi.
Foto 1:  Keindahan bulu Gallicolumba tristigmata yang mengagumkan
Sangat disayangkan kehidupannya sangat jarang diketahui, karena sangat liar sehingga sulit teramati. Maka tidak heran data burung ini sangat kurang tersedia, terutama perilaku dan ekologinya, khususnya perkembangbiakannya.
Beberapa tahun lalu saya mecoba mengumpulkan data burung ini, dan berhasil terkumpul data tingkah laku, ekologi, dan biogeografi, yang saya rangkum dalam tulisan ini. Data ini walaupaun sedikit tetapi saya yakin akan sangat bermanfaat.
Sejak 1990 saya melakukan pengamataan di hutan-hutan Sulawesi. Saya harus memendam keinginan begitu lama untuk bertemu burung ini, sebelum akhirnya berhasil berjumpainya pada 2010 di hutan sekunder tua Desa Ganda-Ganda, Morowali Utara.
Data tingkah laku dan habitat burung ini selain dari pengamatan saya lakukan, juga dari hasil wawacara para masyarakat yang melakukan aktifitas di hutan, juga data dari pengamat lain.

Rabu, 30 Januari 2019

MISTERI ANIS DI CAGAR ALAM MOROWALI, TIMUR SULAWESI


Oleh : Fachry Nur Mallo

Pendahuluan
Belantara Sulawesi masih banyak menyimpan misteri yang belum terpecahkan hingga saat ini. Salah satunya adalah kehidupan avifaunanya. Jika kita melakukan perjalanan riset ke pelosok-pelosok hutan, kita sering membawa pulang pertanyaan tentang kehidupan avifaunanya. Apakah tentang ekologinya, penyebarannya yang menyimpang. Bahkan yang menarik diantaranya belum diketahui jenisnya. Hal ini menyebabkan beberapa tahun belakangan dijumpai jenis-jenis burung baru di kawasan ini.
Gambar 1.  Sketsa Anis saya jumpai di hutan primer/sekunder tua Cagar Alam Morowali
(sketsa saya buat tahun 2006)
Keadaan itu juga saya rasakan selama melakukan pengamatan dan riset avifauna di belantara Sulawesi selama 29 tahun. Banyak pertanyaan-pertanyaan yang menyeruak di dalam pikiran saya setelah pulang ke rumah, diantaranya hingga saat ini masih banyak belum terjawab.

Minggu, 23 Desember 2018

ADAPTASI KAKATUA JAMBUL-KUNING (Cacatua sulphurea) DI LEMBAH PALU DAN PULAU PASOSO


Oleh  Fachry Nur Mallo
Gambar 1.  Sepasang Kakatua kecil jambul kuning di Pulau Pasoso
Pendahuluan
Kakatua Jambul Kuning tersebar terbatas di Sulawesi, Nusa Tenggara dan pulau-pulau kecil di Laut Flores. Diintroduksi ke tempat lain (del Hoyo,  et al.,  2014.). Di seluruh tempat penyebarannya semakin jarang dijumpai, sehingga saat ini sangat terancam puncah.  IUCN menetapkan status keterancamannya kategori kritis (critically endangered). Hal ini disebabkan semakin gencarnya perburuan yang dilakukan dan pengrusakkan habitatnya (Cahyadin, Y. dkk., 1994 dan Mallo, F.N., dkk., 1996).  Pada banyak tempat di Sulawesi telah punah secara lokal.
Merupakan penghuni hutan primer dan sekunder tua, di luar musim berbiak pengembara (nomadic) mengunjungi tempat-tempat terdapat tumbuhan berbuah, termasuk tanaman di lahan budidaya dan hutan mangrove berpasangan dan berkelompok kecil maupun besar. Sebagaimana anggota ordo Psittaciformes (nuri, serindit dan kakatua) saat berbiak membuat sarang dengan melobangi bagian batang pohon lunak lalu meletakkan dua hingga tiga telur di dalamnya. 

Sabtu, 24 November 2018

BURUNG-BURUNG DI PULAU PASOSO


Oleh:  Fachry Nur Mallo* dan Moh. Ihsan Nur Mallo**
Gambar 1.  Corvus enca umum dijumpai di pesisir pantai
DESKRIPSI PULAU PASOSO
Status dan letak
Pulau Pasoso beserta perairan lautnya merupakan kawasan Suaka Margasatwa Laut berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Sulawesi Tengah dengan luas kurang lebih 5.000 ha, yang dikhususkan untuk melindungi segala aktifitas penyu di tempat ini. Luas daratan Pulau Pasoso 49 ha. Secara administrasi Pulau Pasoso termasuk wilayah Desa Pomolulu, Kec. Balaesang, Kab. Donggala. Prov. Sulawesi Tengah.